Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Tertawa Lebih Awal


Rona wajahmu layak memesona, hingga akalku tak kuat bandingkan
Lisan tutur serta gerikmu rasuk tanpa ada tendensi batinku yang kokoh
Hingga tak kunjung surut niatku ingin merabamu dan melentikkan jariku
Sekedar untuk menahan nafsu birahiku yang sangat
Cerita bidadari tak lebih dan hanya kiasan para pendongeng
Kini kau hadir di hadapanku, tapi sepatah kata tak bisa terucap
Angin apa yang membawamu dihadapanku
Biar badai sekalipun aku tak akan jauhimu
Dari ujung atas, dikau singkap anumu, dikau perlihatkan milikmu
Aku tak kuat lagi untuk menjamahmu
Wahai ...
Ha...haa...haaha...Ternyata dirimulah yang beruntung, dan aku pun tertawa diawal pagi ini

Senin, 25 Juli 2011

Kematian (Pesan Singkat dari Tuhan)

Sebenarnya tulisan ini ingin aku posting dari kemarin, tapi keterbatasan waktu untuk menulisnya. Mengenai awal aku ingin menulis tulisan ini adalah akumulasi dari beberapa kejadian yang aku dapat saat itu. Tepatnya tanggal 23 Juli 2011, pagi hari ketika aku tiba di kantor tempat aku kerja. Sebenarnya hanya mendengar, bukan merasakan secara langsung. Tapi berita tentang kematian ini cukup membuat aku prihatin dan sedih, ada rasa simpati kepada orang yang mengalami musibah sepeerti ini.

Saat itu aku sedang duduk dekat meja Sekuriti kantor, saat itu sekuriti kantor merupakan pihak yang mengalami musibah itu, salah satu anggota keluarganya kembali kepangkuan sang Khalik, kabar beritanya cukup mengejutkan karena didapatnya hanya lewat via telpon seluler. Setelah mendengar berita dari hasil percakapan Sekuriti dengan keluarganya, aku pun spontan mengatakan “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Kalimat ini mesti dikatakan ketika mendengar dan melihat musibah dari saudara-saudara kita, entah siapa dan bgmn latar belakang keluarganya. Menjelang siang, sebuah arak-arakan lewat yang sedang membawa jenazah, dengan sejumlah kendaraan bermotor dan mobil menguasai badan jalan dan menjadikan kondisi jalan menjadi macet, karena beberapa jalur di kuasai oleh arak-arakan jenazah itu. 

Ada sisi negative dari tingkah pengarak jenazah itu, seperti penguasaan jalanan yang menganggu pengguna jalan yang lain. Menjelang senja hari, saat itu aku sedang asyik menikmati teh gelas dan snack yang aku beli dari kios sebelah. Saat itu aku sedang berada di bengkel milik temanku, cukup jauh dari tempat aku tinggal. Sambil aku menikmati teh dan snack itu, aku juga sedang menelpon adik aku yang berada di papua. 

Setelah beberapa bercerita dengan adik aku. Adzan maghrib berkumandang, aku pun berpamitan dengan adik aku untuk segera pulang ke rumah. Tiba-tiba teman aku, pemilik bengkel itu mengatakan berita kematian dari salah satu dosen tempat kami kuliah dulu. “Inna lillahi wa inna ilihi rajiun”, Simpati, hal pertama yang kulakukan dan terpikir olehku, keinginan tuk segera kembali ke rumah akhirnya ku urungkan. Aku memutuskan untuk ikut melayat setelah sholat maghrib. Beberapa teman yang lain, aku pun berangkat bersama mereka kerumah duka.

Senin, 11 Juli 2011

Moment Bersamamu

Moment...
Awal dan akhir cerita
Bukan dibuat untuk dinikmati, tapi selalu terngiang di hati

Moment...
Diriku kepadanya, dengan janji
Kuraih tangannya, tuk nyatakan niatku kepadanya

Moment...
Kisah cinta kami berdua (Savart feat Ummul)

Rabu, 29 Juni 2011

Musik Menuai Kritik Hidup Seseorang

Mungkin anda adalah salah satu orang yang menyukai musik untuk melukiskan suasana hati anda. Kenapa tidak, kebanyakan orang menginginkan sebuah hiburan yang betul-betul dapat menghilangkan kejenuhan setelah pulang dari tempat kerja, melukiskan ketika anda sedang mengalami kesedihan dan dilanda rindu kepada sang kekasih.

Dibawah ini, beberapa pendapat kenapa orang menyukai musik :

* Cerita lagu itu seolah mewakili kisah hidup anda (Jatuh Cinta atau Patah Hati).

* Lagu tersebut hadir disaat yang tepat dengan salah satu fragmen kehidupan anda tanpa disadari atau disengaja.

* Karena orang yang anda sukai mengenalkan lagu itu

* Seorang mempersembahkan lagu itu untuk anda.

* Hanya karena menurut sense anda irama lagu tersebut sesuai dengan suasana saat mendengarkannya.

* Lagu itu merupakan Ost otau bagian dari cerita Favorit anda.

* Karena musik itu teman, musik itu hiburan, musik itu kedamaian, musik itu kebutuhan.

* Membuat kita semangat untuk berbuat sesuatu

* Hilangkan stress

* Karena musik bikin suasana hati menjadi seperti yang kita inginkan tergantung dari jenisnya.

* Karena musik melukiskan perasaan kita, dan juga mempengaruhi jenis music yang ingin kita dengar

* Karena menghibur dan enak di dengar

* Menjadi flashback hari-hari sebelumnya.


Mungkin salah satu dari beberapa pendapat diatas pernah anda rasakan, dan pastinya semua orang pasti menyukai musik.

Kamu bisa perhatikan potongan lirik lagu dibawah ini :

Tanpamu Sepi (GIGI)

Kau belahan jiwaku
Kini aku sendiri hampa
Kusadari
Begitu sangat beda
Perasaanku di saat
Memelukmu, dengan tulus

Satu ungkapan tentang
Tali kasih dan cinta putih
Suci adanya
Sangat aku sadari
Nafasku dan cintaku hanya
'Tuk dirimu, dengan tulus, dengan kasih

Hari hari terasa sepi tanpa
Ada dirimu di sisiku
Jangan berpaling kasih
Dari hatiku yang kusesali

Senin, 09 Mei 2011

Ada Apa Dengan Agama-ku

Agama ku adalah adalah urusanku, Neraka dan Syurga hanyalah sebuah ekspektasi manusia. Tidak perlu mempersoalkan tentang dosa besar yang telah aku lakukan. Cukup mengetahuinya meskipun berulangkali dirimu memperingatkan-ku. Selama aku tak mengganggu agama-mu.

Bencilah pribadi-ku, bukan agama-ku. Bukan agamaku yang salah, karena aku diciptakan untuk di goda iblis. Jadi salahkan Iblis, dialah playmaker kesalahan-ku. Tak apalah jika kelak aku ditempatkan di neraka, bukan karena aku merindukan iblis, tapi aku rindu neraka.


Mungkin kata-kata yang di ucapkan oleh Nurdin diatas, merupakan bentuk ke-kecewaannya pada saudaranya yang menganggap agamanya adalah suatu yang buruk. Hatinya menuntut akan hujatan yang dilemparkan kepadanya. Bukan karena dia adalah teroris ataupun penganut aliran keras, tapi karena hanya berpacaran dengan perempuan yang tidak se-agama dengannya.

Ada apa dengan agamaku, salahkah aku menjadikannya calon pendamping hidupku. Dia tak buruk, diapun sama denganku, keluarganya ramah denganku, dia memiliki apa yang aku inginkan, tapi bukan karena materi.

Setelah keraguannya memuncak, dia pun bingung untuk menemukan solusi dari permasalahannya. Dia menatap ke langit-langit rumahnya, seraya menanti akan datang sebuah ke ajaiban, matanya melotot hingga gerak-gerik cicak pun dia perhatikan.

Kemudian dia (matanya) tertuju pada tulisan kaligrafi di dinding rumahnya. Dia bergumam, dan memohon maaf kepada Tuhannya,

“ Ya Allah, Apa yang salah dari pilihan hatiku, bukankah firman Mu mewajarkan bahwa Engkau menciptakan pasangan hidupku?”

Tak henti, matanya yang sudah mulai kemerahan, dia tetap menatap ke langit-langit rumahnya, hingga matanya tertuju pada meja disampingnya, diatas meja itu terdapat sebatang rokok, rokok itu adalah milik temannya yang ditinggal, kebetulan temannya seorang perokok. Dia pun meraih rokok itu dan menghisapnya, begitulah caranya dia menenangkan pikirannya. Meskipun rokok itu mengandung racun (Nikotin dsb).

Setelah sampai setengah dari rokok itu dia hisap, akhirnya dia inisiatif untuk merungdingkannya dengan kenalan barunya, namanya Aminah.

Dia (Nurdin) pun mempertanyakan hal-ikhwal kegelisahannya kepada Aminah yang baru beberapa hari dia kenal. Dia pun meraih handphone miliknya dan mengecek sisa pulsa yang dia miliki. Kemudian jemarinya mulai menari diatas tuts handphone miliknya, di pun mengirimkan sms kepada si Aminah.

Nurdin : “ Assalamu alaikum… lg ngapain!”

Aminah : “ Wa alaikum salam Wr.Wb…lg duduk di teras”

Nurdin : “ Hmmm….M’nurut kamu, tipe cowok yg kamu suka s’perti apa?”

Aminah : “ Hmmm… yang penting itu agamanya dunk, hehehe…..” sambil tersenyum…Kalau Kamu seperti apa..?

Nurdin : “ Kalau Aku tidak penting agamanya seperti apa, yang jelasnya beriman, kemudian hatinya cantik, mau menderita bersama saya, dan siap terima konsekuensi.

Aminah : “ Wah…agama itu penting loh, dalam islam tidak dianjurkan menikah dengan yang tak se-agama, jika menikah dengan orang tidak se-agama maka dia dianggap ber-zina. Artinya kamu bisa berdosa…trus menurut saya, orang yang bertanggung jawab atas keyakinannya otomatis akan bertanggung jawab juga terhadap orang lain dan kehidupannya..”

Nurdin : “ hehehe…. Itu hadits siapa perawinya….?...jika hadits itu perawinya (Bukhari dan Muslim) selain mereka saya tdk percaya….Albert Einstein lahir sebagai orang yahudi, apakah dia pantas di katakan kafir ..? berdosa..? walaupun dia disebut tak beragama tapi dia memiliki kepercayaan. Sedangkan orang orang-orang yang Korupsi memiliki agama tapi tak ber-iman.

Aminah : “ Aduh..kayaknya prinsip kita berbeda yah..heeheheh….mengenai kelahiran Einstein tdk ada yang salah. Tapi bukankah apa yang telah ditakdirkan pada kita harus tunduk pada aturan masing-masing agama kita…”

Nurdin : “ Apakah prinsip harus menjadi tembok pemisah ketika saya menaruh hati pada seseorang..?

Pesan singkat itu pun terputus begitu saja, harapan Nurdin untuk mendapatkan solusi terhenti. Mungkin suatu saat dia mampu menemukan cara untuk mendapatkan jalan untuk keluar dari. Dia akhirnya membaringkan badannya di lantai, pandangannya kosong.

Akhirnya kedua matanya tertuju pada sebuah botol bertuliskan “Danger”. Pikirannya pun tak karuan, mungkin inilah solusi dari pesan singkat itu.

Diraihnya botol itu, dan meneguknya dengan perlahan. Hatinya mengucap maaf, Tuhan...! terima kasih..KAU telah menciptakan neraka untukku.

Kamis, 31 Maret 2011

Demi Beberapa Bulir Hasil Keringat Orang Tuaku

Hal inilah yang telah banyak menyita pikiranku, dari kemarin sore hingga keputusan ini aku ambil, keputusan yang menurut aku anggap sebuah langkah tepat, sebuah prioritas. Orang-orang banyak menyebutnya seperti itu.

Dan hari ini, ketika sinar matahari telah terbit dan menjadi pertanda bahwa keputusanku adalah sebuah kebenaran yang ditunjukkan oleh Tuhanku. Karena Semalam yang lalu, telah banyak konsep yang telah ku buat untuk mengatakan, untuk meyakinkan, untuk mengakhiri. Dan akhirnya kuputuskan untuk mendiskusikannya dengan beberapa temanku yang kuanggap tepat dan dipercaya.

Pagi itu, aku pun singgah di sebuah warung kopi. Tak jauh, malahan tepat karena letaknya cukup menenangkan diriku yang sedang kalut. Sekali lagi ini bukan masalah cinta, tapi lebih dari itu. Tapi aku tidak tahu apa nama diatas sebuah cinta. Tapi tidak penting untuk dibahas, pastinya anda-anda lebih tahu dari aku.

Saat aku menyandarkan tubuhku, cukup lelah aku bawa beban ini, tapi sebentar lagi akan kubagikan kepada temanku yang telah aku ajak. oK.. aku perkenalkan temanku

Yang pertama :
Namanya Clas Mild, aku kenal dari sejak lama dari teman-temanku dan pasti anda mengenalnya juga. Kepribadiannya bisa dikatakan menyenangkan, dahulunya hinga sekarang sifatnya tak berbeda, itu yang aku suka darinya. Dan hari ini aku mengajaknya dalam diskusi ini, yang kebetulan aku temui di sebuah Toko dekat warung Kopi.

Yang ke-dua :
Namanya Teh Susu, kalo teman yang satu ini sering jadi penyejuk dan kadang menjadi teman curhatku. Tentang kepribadian, menyenangkan dan selalu menghangatkan suasana. Mungkin anda juga tahu tentang dirinya.

.:.***.:.


Dan dimulailah diskusi itu, membahas masalah tentangku, dengan sedikit tertutup tanpa ada wartawan yang diundang dan narasumber. Ditengah-tengah pertentangan dan panjang itu, rasanya temanku si Clas Mild hanya ogah untuk mau tahu masalahku, malahan malah berbuat se-enaknya dalam forum itu. Padahal susah payah aku menjemputnya di toko itu.

Berbeda dengan temanku Si Teh Susu malah menghangatkan tubuhku, dengan menepuk dadaku dan punggungku agar aku bersabar dan lebi tenang dalam menghadapi masalah ini.

Dan hasil dari diskusi ini pun aku mengambilnya bukan melalui forum itu, tapi kukembalikan kepada akal-ku yang lebih mapan dan kupertanyakan kepada hati-ku sebagai penasehatnya.

.:.***.:.

Senin, 28 Februari 2011

Aku dan Sahabatku

Bercerita tentang dua sahabat yang mempunyai cita-cita menjadi pemimpin, dan masing-masing memiliki kelebihan tapi saling menutupi. Awalnya hanya sebuah pertemuan biasa, tepatnya sejak mereka memasuki sekolah menengah pertama. Lonceng sekolah berbunyi, tanda mata pelajaran pertama telah usai, beberapa siswa berlarian menuju kantin, mereka ingin melepas kepengatan dan kelelahan mereka setelah satu setengah jam mereka belajar untuk hari pertama mereka sekolah. Lain halnya Armand dan Thomas, mereka hanya menikmati sebuah coca cola dengan sebuah buku yang mereka pinjam di perpustakaan sekolah, di bawah pohon mangga itu mereka sedang mendiskusikan tentang perjalanan mereka selama disekolah dasar hingga mereka masuk di sekolah pertama ini.

Mereka menyandarkan badannya di pohon mangga, layaknya seorang kekasih yang saling menyandarkan badannya. Mereka menceritakan tentang pelajaran dan tipe guru yang mereka sukai dan juga cita-cita mereka. Tak luput mereka menyapa teman-teman yang berlalu didepannya, dengan senyuman sedikit miris dan kemudian melanjutan masing-masing cerita mereka. Hingga jam istirahat usai, merka pun menyudahi cerita mereka, mereka ingin melanjutkan cerita mereka pada saat jam istirahat yang kedua, sekalian mereka ingin sholat bersama di mushollah sekolah.

Armand merupakan satu-satunya pemuda yang sekolah yang di sekolah berstatus negeri, mungkin dia hanya beruntung, tapi tekadnya yang menginginkan dirinya untuk bisa bersekolah ditempat yang dia cita-citakan, dan akhirnya hari itu datang juga. Dia pun lulus di sekolah negeri yang merupakan sekolah favorit di kampungnya. Bukan karena dia pintar tapi beruntung, jika dihitung orang pintar banyak dikampungnya, tapi yang beruntung sedikit. Hari-harinya tidak begitu sempurna seperti orang lain, untuk membantu orang tuanya pun bisa dikatakan malas, banyak waktunya yang digunakan untuk bermain. Thomas yang malas terbiasa dengan kehidupan sehari-harinya di sekolah dasar, bermain dan bermain serta jarang belajar, itu pun jika ada pekerjaan rumah dari sekolahnya atau belajar jika ada ujian yang akan dihadapi besok harinya.

Berbeda dengan Thomas, dia dibesarkan dilingkungan yang berkecukupan serta orang tua yang berasal dari keluarga orang terpandang, tapi bedanya Thomas tidak mau besar karena nama orang tuanya, dia ingin mandiri seperti orang lain, dia ingin tidak dimanja lagi karena pikirnya dia telah mampu menjalani dan memilih apa yang dia kehendaki walaupun orang tuanya masih membiayai sekolahnya. Menurut Armand sendiri jarang mendapatkan teman seperti Thomas, karena mereka saling menghargai walaupun status social mereka berbeda, komitmen seperti itulah yang menjadikan mereka tambah akrab setiap hari disekolahnya.

Kamis, 24 Februari 2011

Anak Jadi Lugu ( Efek Kebebasan Bercanda )

Alkisah seorang anak sedang asyik menonton film kesukaannya, Spongesbob Squarpants. Maklum anak ini tidak pernah sedikit pun melewatkan film yang satu ini. Tak lama dia duduk sambil tertawa melihat aksi Patrick Star yang bodoh, tiba-tiba chanel di ganti. Spontan anak itu diam, kemudian membalikkan badannya kearah ayahnya yang baru datang dari tempat kerjanya.

Anak : “ Ayah…kenapa diganti chanelnya sih..? aku kan lagi nonton film kesukaan aku..”

Dengan wajah yang memelas kepada ayahnya, tapi tak membuat ayah dari anak itu luluh. Malah tersenyum dan berkata kepada anaknya :

Ayah : “ Nanti, lain kali aja nontonnya, biasanya film kamu itu sering di ulang-ulang.”

Melihat ayahnya baru datang dari kantor, anak tersebut luluh. Dia pun tahu kalau film yg disukainya itu akan diputar dalam episode berikutnya. Dan untuk menyenangkan ayahnya, anak itu berkata :

Anak : ” Ayah, mang mau nonton apa sih ?” selidik anak pada ayahnya.
Ayah : “ Ayah mau nonton berita, tentang Gayus sayang “
Anak : “ Ohhh…Gayus yang sering di nyanyiin lagunya itu yah?
Ayah : ” Iya, kok tahu sih?” balas selidik ayahnya.
Anak : “ Ya iyalah, tiap hari jadi lagu kebangsaan anak-anak kompleks yah!” sambil tertawa cengengesan.

Terdengar dari arah mesjid adzan maghrib berkumandang, ayah dari anak itu kaget, kemudian teringat kalo dia belum sholat ashar.

Ayah : “ Astaghfirullah……ayah belum sholat ashar” sambil menggaruk kepalanya.

Sontak anak itu berkata kepada ayahnya :

Anak : “ Makanya, ayah kalo dari kantor sholat dulu baru nonton berita. Kalo sudah gini bukan lagi sholat namanya. Mau dapat pahala juga tidak mungkin.” sambil tertawa mengejek ayahnya.
Anak : “ Ayah, apa enaknya sih nonton berita gituan? tambahnya.
Ayah : “ Namanya juga lupa, mau gimana lagi? Serba salah, mendingan terusin nonton nya aja” sambil tertawa kearah anaknya.

Anak itu hanya pasrah melihat ayahnya tertawa, kemudian terpikir olehnya untuk mengingatkan ayahnya kalo meninggalkan sholat itu dapat dosa.

Anak : “ Yah, Pak Guru aku bilang kalo meninggalkan sholat dapat dosa loh..!”
Ayah : “ hahaha…iya, ayah tahu kok, tapi yang korupsi itu lebih rajin sholatnya dari ayah.”
Anak : “ Kok begitu sih yah?” emangnya mereka tak takut dosa??
Ayah : “ Yah jelas takut sih, tapi itu urusan akhirat. Dan juga masih banyak waktu untuk berbuat baik, yah mudah-mudahan mereka cepat insaf, tapi kalo korup jalan terus? Buat apa sholatnya. Kan percuma. Hehehe..”
Anak : “ Jadi ayah ingin seperti itu yah???”
Ayah : “ ahhh, nggak…nggak mungkin lah ayah ingin seperti itu kok…hehehehe”
Anak : “ Awas…kalo ayah seperti itu, kita putus..kwkwkwk” candaan anak kepada ayahnya.
Ayah : “ OK, ayah janji kok, hehehhe..”

Sempat hening beberapa saat, setelah pembicaraan serius itu terputus tiba-tiba ketika ibunya berlalu di depan anak itu. Kemudian anak itu lanjut bertanya :

Anak : “ Ayah, kalo Neraka ada dan di buat oleh manusia, apakah sama dengan Neraka yang diciptakan Tuhan..?
Ayah : “ Hmmm…beda sih… kenapa pertanyaannya seperti itu..? selidik ayahnya.
Anak : “ Mau tahu aja, mang anak kecil tidak boleh tahu yah?” balas selidik anaknya.
Ayah : “ Kalo Neraka ciptaan Tuhan itu yang di nilai banyaknya amal yang diperbuat selama dia hidup, semakin banyak berbuat baik, kemungkinan kamu bisa masuk Syurga. Sedangkan Neraka ciptaan manusia itu yang dinilai adalah banyaknya uang yang dipakai untuk mendapatkan kebebasan, agar kamu terhindar dari jeratan hukum, itu menurut ayah anakku”
Anak : “ wah…Ayah hebat, artinya ketika saya melakukan korupsi di dunia kan artinya saya bisa terhindar dari neraka ciptaan manusia, kemudian uang hasil korupsi saya gunakan untuk orang-orang miskin dan anak-anak terlantar, artinya saya bisa terhindar dari Neraka ciptaan Tuhan. Begitu Ayah..???
Ayah : “ Astaghfirullahh……”

Maaf…! Lanjutannya di sensor oleh badan sensor penulis…hehehhe^%&^*%*%*%%$#

Minggu, 23 Agustus 2009

Mana Yang Lebih banyak Diskonnya?

Jam istirahat sekolah sudah usai, tepatnya pukul 10.00. Teman-temanku berlarian masuk ke kelas, tapi aku santai saja, Pak Guru yang mengajar pada jam pelajaran ini belum datang, saat itu aku berada tepat di belakang kelas dan juga dekat dengan kantin sekolah, maklum kelasnya adalah kelas pembuangan, jadi dekat dengan kantin, bercanda, mana ada kelas pembuangan, orangnya cerdas kok. Lebih 10 menit kuperhatikan jam di tanganku, kemudian kuintip lewat jendela kelasku ternyata Pak Guru yang mengajar sudah ada di dalam kelas. Waduh…terlambat lagi, pikirku. Kemudian aku berlari menuju kelas, mudah-mudahan diizinkan masuk mengikuti mata pelajaran itu.

Tepat depan pintu kelas aku mengucapkan salam. Dengan ragu aku masuk kelas dan sedikit hati-hati menuju tempat duduk dekat Pak Guru berdiri. Alhamdulillah, akhirnya tidak dapat hukuman. Saat itu aku belajar Pendidikan Agama Islam, dan juga dalam suasana bulan Ramadhan. Mungkin karena bulan Ramadhan Pak Guru tidak marah, asyik sekali yah kalau suasananya ramadhan. Dalam pelajaran itu kami belajar tentang Rukun iman dengan sub bahasan tentan puasa, karena bulan itu adalah bulan suci ramadhan. Pak Guru bercerita tentang pahala-pahala yang ada dalam bulan suci ramadhan, keunggulannya dibandingkan dengan bulan yang lain dan lain-lain.

Dalam pelajaran itu kami belajar berkelompok dan kami mendiskusikan tentang “ Pahala Puasa”. Dan saat itu kelompok yang pertama memimpin diskusi adalah kelompok A, yaitu kelompok dimana salah satu anggotanya adalah saya sendiri. Dalam diskusi itu kelompok kami mengangkat tema tentang Diskon dalam bulan suci ramadhan. Temanya sedikit aneh, tapi inspirasi tema ini kita ambil karena kebetulan sebelum istirahat kami belajar Ekonomi, jadi sebab tema kelompok kami seperti itu. Kemudian perdebatan-perdebatan dalam diskusi kami bertambah rumit, sehingga kesimpulan tidak tercapai. Kemudian dengan bijak Pak Guru mengambil alih dalam diskusi kami. Dan menyuruh kami untuk melakukan survey di beberapa tempat. Pertama, di Toko Pakaian, Kemudian di Pasar, dan Ketiga di Masjid. Tugas itu akan dikumpul minggu depan, dengan jam yang sama dan akan didiskusikan. Dalam survey itu kami disuruhkan untuk membandingkan kondisi sosial efek dari “ Diskon” dan membuat suatu pernyataan apa yang diperoleh dari survey itu.

Tiba saatnya kami akan mendiskusikan hasil survey kami, tentunya kelompok kami yang memimpin diskusi itu. Dan dari hasil survey yang kami lakukan, ada pernyataan yang kami paparkan diantaranya bahwa :
1. Di Toko Pakaian lebih banyak pengunjungnya karena diskon yang ditawarkan nampak atau betul-betul didapatkan.
2. Di Pasar lebih banyak pengunjungnya karena diskon yang ditawarkan karena musimnya.
3. Di Masjid lumayan banyak itu pun tergantung waktunya, lebih banyak pada malam hari dari pada siang hari, dan moment dalam bulan puasa lebih baik dari pada bulan yang lain, tentang diskon tidak transparan, hanya orang beriman makna dari diskon amal dalam bulan ramadhan. Kadang naik turun, dasar otak ekonomi, prinsipnya hanya untung rugi.
Suasana diskusi semakin a lot, lebih banyak bantahan tentang pernyataan yang kami paparkan sehingga hanya canda tawa yang karena salah satu dari teman di kelas kami mengeluarkan gas yang tak sedap, semuanya jadi kacau, Pak Guru pun ikut tertawa oleh suara itu, dan akhirnya jam pelajaran pun telah usai dan hasil diskusi itu nihil tanpa kesimpulan.