Tampilkan postingan dengan label Sosial Dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Murahnya BBM

Harapnya Kota Metropilitan, memiliki apa yang akan kita inginkan. Segalanya ada tinggal mencari dan berusaha mewujudkannya. Harapnya negeri kita Indonesia, kekayaan alam melimpah dan sumber daya manusia yang kreatif dan reaktif. Dari sabang-merauke penuh fantasi dan unik, keberadaanya tak pasti.


Mungkin karena pengaruh Bahan Bakar Minyak, yang di singkat BBM sebagai salah satu factor perekonomian kita seperti ini. Tapi saya gariskan bukan karena saya tahu akan kondisi di negeri kita, tapi dengan gambar ini sebagai bukti akan Murahnya Bahan Bakar Manusia. Mungkin pemerintah yakin akan solusi kelangkaan ini, dan mari kita berdoa dan mendukung kelancaran kegiatan yang mereka canangkan. Mudah-mudahan sampai ke tujuan yang sebenarnya dan PASTI.

Jumat, 22 Juli 2011

Ekonomi Versi Orang Miskin

Sore hari, tampak sinar mentari telah beranjak turun dengan perlahan. Seharian tak melakukan apapun, duduk ditemani segelas teh yang menyemangatiku hingga saat ini. Di ranting pohon mangga itu, bertengger seekor burung gereja yang sedang menikmati sore harinya bersama pasangannya, aku jadi iri melihatnya bercanda dan dengan kicauannya, entah seperti apa yang mereka katakan.

Di kejauhan, ujung jalan. Aku melihat seorang yang keperawakannya telah tua dan sedang sibuk dengan jualannya. Penjual makanan ringan, keripik singkong. Ada keinginan untuk membeli, tapi untuk saat ini aku tidak memiliki uang untuk membeli makan itu, walaupun tenggorokan ini terus meminta tapi karena aku sedang berusaha menghemat isi dompetku yang sudah tinggal beberapa lagi.

Cukup dari kejauhan aku perhatikan dengan seksama, tak beberapa lama dia pun menghitung pendapatan yang telah dia dapatkan dari hasil penjualannya. Aku malah penasaran total berapa dia dapatkan hari ini, sesekali dia menjilat jari-jarinya untuk menghitung uangnya. Alangkah nikmatnya cara dia menghitung uang dari hasil jualannya, rasa kepuasan tersendiri hingga begitu seriusnya tak peduli orang yang lewat didepannya.

Aku tak begitu tahu tentang ekonomi, defenisi dan segala macamnya. Yang aku tahu hingga saat ini, segala sesuatunya harus bernilai dengan uang. Everything is money, apapun defenisi menurut anda tentang uang. Intinya dia “uang” adalah segalanya, hingga nyayian “ ada uang abang ku saying, gak ada uang abang ku tending”. Sedalam itukah nilai uang hingga orang-orang rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya, baik itu dengan jalan baik (halal) ataupun dengan cara kotor (haram).

Aku ada karena ada uang menjadi falsafah diri, yang menjadikan ke-eksis-an seseorang, seperti mobil mewah, barang antik dalam rumah, dan sejenis barang yang mengisyaratkan bahwa orang tersebut betul-betul berada atau memiliki predikat “orang kaya”. Bagaimana dengan orang yang tergolong sebagai orang miskin ? . Apakah sikap/ cara mendefinisikan tentang ekonomi ? sebagai sesama orang miskin, pasti berharap jadi orang kaya, tapi kapan waktunya itu tidak bisa dipastikan, jika aku berusaha pasti bisa. Tapi saran aku, jangan pernah lakukan atau menjadi orang kaya dengan cara kotor, seperti nyanyian SLANK, seperti Para KORUPTOR.

Senin, 20 Juni 2011

Wahai Negeriku

Wahai Negeriku…
Kemana aku memohon, kepada siapa diriku meminta. Setiap hari dirimu dilanda kegalauan. Dilanda kerisauan yang berkepanjangan dan tak pernah surut akan berita kegonjangan.

Wahai Negeriku…
Nama mu kini tercoreng di publik dunia, bukan oleh orang lain, bukan pula karena sebab yang lain. Hanya karena sebuah kasta yah untuk mendapatkan kasta yang lebih mapan dan terpandang.

Wahai Negeriku…
Kuberdoa untukmu, agar damai dirimu nantinya, agar rakyat mu sentosa, harapku berpadu dengan harapan rakyat kecil, mungkin pencipta dengar.

Wahai Negeriku…
Semoga…(Amin)

Senin, 09 Mei 2011

Ada Apa Dengan Agama-ku

Agama ku adalah adalah urusanku, Neraka dan Syurga hanyalah sebuah ekspektasi manusia. Tidak perlu mempersoalkan tentang dosa besar yang telah aku lakukan. Cukup mengetahuinya meskipun berulangkali dirimu memperingatkan-ku. Selama aku tak mengganggu agama-mu.

Bencilah pribadi-ku, bukan agama-ku. Bukan agamaku yang salah, karena aku diciptakan untuk di goda iblis. Jadi salahkan Iblis, dialah playmaker kesalahan-ku. Tak apalah jika kelak aku ditempatkan di neraka, bukan karena aku merindukan iblis, tapi aku rindu neraka.


Mungkin kata-kata yang di ucapkan oleh Nurdin diatas, merupakan bentuk ke-kecewaannya pada saudaranya yang menganggap agamanya adalah suatu yang buruk. Hatinya menuntut akan hujatan yang dilemparkan kepadanya. Bukan karena dia adalah teroris ataupun penganut aliran keras, tapi karena hanya berpacaran dengan perempuan yang tidak se-agama dengannya.

Ada apa dengan agamaku, salahkah aku menjadikannya calon pendamping hidupku. Dia tak buruk, diapun sama denganku, keluarganya ramah denganku, dia memiliki apa yang aku inginkan, tapi bukan karena materi.

Setelah keraguannya memuncak, dia pun bingung untuk menemukan solusi dari permasalahannya. Dia menatap ke langit-langit rumahnya, seraya menanti akan datang sebuah ke ajaiban, matanya melotot hingga gerak-gerik cicak pun dia perhatikan.

Kemudian dia (matanya) tertuju pada tulisan kaligrafi di dinding rumahnya. Dia bergumam, dan memohon maaf kepada Tuhannya,

“ Ya Allah, Apa yang salah dari pilihan hatiku, bukankah firman Mu mewajarkan bahwa Engkau menciptakan pasangan hidupku?”

Tak henti, matanya yang sudah mulai kemerahan, dia tetap menatap ke langit-langit rumahnya, hingga matanya tertuju pada meja disampingnya, diatas meja itu terdapat sebatang rokok, rokok itu adalah milik temannya yang ditinggal, kebetulan temannya seorang perokok. Dia pun meraih rokok itu dan menghisapnya, begitulah caranya dia menenangkan pikirannya. Meskipun rokok itu mengandung racun (Nikotin dsb).

Setelah sampai setengah dari rokok itu dia hisap, akhirnya dia inisiatif untuk merungdingkannya dengan kenalan barunya, namanya Aminah.

Dia (Nurdin) pun mempertanyakan hal-ikhwal kegelisahannya kepada Aminah yang baru beberapa hari dia kenal. Dia pun meraih handphone miliknya dan mengecek sisa pulsa yang dia miliki. Kemudian jemarinya mulai menari diatas tuts handphone miliknya, di pun mengirimkan sms kepada si Aminah.

Nurdin : “ Assalamu alaikum… lg ngapain!”

Aminah : “ Wa alaikum salam Wr.Wb…lg duduk di teras”

Nurdin : “ Hmmm….M’nurut kamu, tipe cowok yg kamu suka s’perti apa?”

Aminah : “ Hmmm… yang penting itu agamanya dunk, hehehe…..” sambil tersenyum…Kalau Kamu seperti apa..?

Nurdin : “ Kalau Aku tidak penting agamanya seperti apa, yang jelasnya beriman, kemudian hatinya cantik, mau menderita bersama saya, dan siap terima konsekuensi.

Aminah : “ Wah…agama itu penting loh, dalam islam tidak dianjurkan menikah dengan yang tak se-agama, jika menikah dengan orang tidak se-agama maka dia dianggap ber-zina. Artinya kamu bisa berdosa…trus menurut saya, orang yang bertanggung jawab atas keyakinannya otomatis akan bertanggung jawab juga terhadap orang lain dan kehidupannya..”

Nurdin : “ hehehe…. Itu hadits siapa perawinya….?...jika hadits itu perawinya (Bukhari dan Muslim) selain mereka saya tdk percaya….Albert Einstein lahir sebagai orang yahudi, apakah dia pantas di katakan kafir ..? berdosa..? walaupun dia disebut tak beragama tapi dia memiliki kepercayaan. Sedangkan orang orang-orang yang Korupsi memiliki agama tapi tak ber-iman.

Aminah : “ Aduh..kayaknya prinsip kita berbeda yah..heeheheh….mengenai kelahiran Einstein tdk ada yang salah. Tapi bukankah apa yang telah ditakdirkan pada kita harus tunduk pada aturan masing-masing agama kita…”

Nurdin : “ Apakah prinsip harus menjadi tembok pemisah ketika saya menaruh hati pada seseorang..?

Pesan singkat itu pun terputus begitu saja, harapan Nurdin untuk mendapatkan solusi terhenti. Mungkin suatu saat dia mampu menemukan cara untuk mendapatkan jalan untuk keluar dari. Dia akhirnya membaringkan badannya di lantai, pandangannya kosong.

Akhirnya kedua matanya tertuju pada sebuah botol bertuliskan “Danger”. Pikirannya pun tak karuan, mungkin inilah solusi dari pesan singkat itu.

Diraihnya botol itu, dan meneguknya dengan perlahan. Hatinya mengucap maaf, Tuhan...! terima kasih..KAU telah menciptakan neraka untukku.

Selasa, 03 Mei 2011

The Big Moment ( On 1, 2, 3 Mei), Sebuah Puisi

Dan ingat lah…!
Sejarah adalah jejak kisah yang pernah ada
Terukir dan tetap mengiang laksana lantunan puisi
Bait-bait nya sangat tajam menghujat bagai sebilah pedang

Dan ingat lah…!
Aku adalah sejarah bagi kalian, begitu pun sebaliknya
Karena sejarah tak menuntut siapa dan dimana berada dan lahir
Karena sejarah adalah rekaman untuk siapa pun

Dan ingat lah …!
Kelam pahit sejarah adalah garis kebenaran nasibnya
Dan maaf !, jika sejarah ku buruk untukmu
Karena itu adalah kesengajaan yang telah ku rencanakan

The Big Moment ( On 1, 2, 3 Mei) [Part II]

2 Mei (Hari Pendidikan Nasional)

Siapa yang tak kenal pejuang nasional kita, Ki Hajar Dewantara. Tokoh nasional ini merupakan pelopor dalam pendidikan di Indonesia. Tokoh ini adalah salah satu tokoh bersama Soekarno dan Mohammad Hatta dalam detik-detik menuju proklamasi kemerdekaan. Beliau selalu optimis dalam langkah perjuangannya, dan salah satu perjuangan yang patut kita banggakan adalah keseriusannya dalam bidang pendidikan, tidak kenal menyerah walaupun pada saat itu Jepang berkuasa di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara (Sumber; Wikipedia.com)

Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.

3 Mei (Hari Pers Sedunia)

Setidaknya Pers-lah yang telah banyak berjasa, diterima ataupun controversial adalah indentik dari sebuah pers. Pers menyajikan informasi penting seputar dunia. Politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, life style dan sebagainya, semuanya adalah objek kajian pers.

Sejarah Pers (arief-permadi.blogspot.com)

KATA orang, pers sudah ada sejak lama. Cikal bakalnya muncul sejak zaman Romawi Kuno (59 SM). Sejumlah catatan sejarah menyebutnya sebagai Acta Diurna, semacam jurnal yang beritanya masih ditulis tangan alias tak dicetak.

Sekalipun cikal bakalnya ada di Romawi, koran edisi cetak sendiri ternyata tak muncul di sana untuk kali pertama. Koran edisi cetak pertama justru dikenal di Cina, bernama Di Bao (Ti Bao) yang terbit sekitar tahun 700-an. Tentu, jangan membayangkan bahwa koran itu mulus dan cantik seperti yang kita lihat setiap hari sekarang, sebab Di Bao dicetak dengan menggunakan balok kayu yang dipahat. Hurufnya aksara Cina. Ahli sejarah sepakat bahwa Di Bao adalah koran pertama di dunia yang sudah dicetak.

Selain hurufnya yang masih kasar, bentuk koran zaman dulu juga juga tak seperti sekarang yang terdiri atas berlembar-lembar halaman. Bentuk koran pada zaman dulu masih sangat sederhana, masih berupa lembaran berita atau disebut newssheet.

Dari sisi isi, juga lebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis para banker serta pedagang dari Eropa. Termasuk koran berikutnya, Notize Scritte yang terbit di Venesia, Italia. Saat itu, koran lembaran ini biasanya banyak dipasang di tempat umum. Namun, untuk membacanya warga harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah, konon, muncul istilah gazette yang dalam perkembangannya diartikan sebagai koran.

Era kebangkitan koran lantas terjadi menyusul penemuan mesin cetak oleh Johan Gutenbergh pada pertengahan abad XV. Penemuan mesin yang memudahkan proses produksi ini memicu terbitnya koran-koran di Eropa, sekalipun prosesnya tak sekaligus.

Awalnya, lembar berita yang terbit tidak teratur dan memuat cuma satu peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Koran berkala muncul tahun 1609 dengan terbitnya mingguan Avisa Relation oder Zeitung di Jerman. Berikutnya terbit pula Frankfurter Journal (1615). Sampai kemudian lahir Leipzeiger Zeitung (1660), juga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudian jadi harian. Inilah koran harian pertama di dunia.

Koran lainnya yang kemudian muncul adalah The London Gazette yang terbit di Inggris tahun 1665. Namun koran yang pertama terbit secara harian di Inggris adalah The London Daily Courant (1702), disusul The Times yang terbit sejak abad XVII dan yang pertama kali memakai sistem cetak rotasi.

The Big Moment ( On 1, 2, 3 Mei) [Part I]

Tak bisa dipungkiri, sejarah adalah sisa sebuah perjuangan. Terukir (Prasasti, Kitab, Manuskrip) atau dikenang (Dongeng) adalah sebuah bukti tentang sebuah moment yang pernah ada di masa lalu. Suka dan duka pasti tak lepas, karena perjuangan adalah memory terindah yang pernah ada dalam kehidupan manusia walaupun berakhir tragis, tapi tak semuanya. Kadang kala, lebih besar kemungkinan menjadi sebuah kemenagan besar dalam hidup, dan itu patut kita tahu. Karena sejarah adalah buah bibir untuk masa depan dan menjadi cermin untuk langkah berikutnya.

1 Mei , Hari Buruh Sedunia yang dikenal sebagai “May Day”.

Sejarah May Day (Sumber ; Wikipedia.com)

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presiden Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Rabu, 27 April 2011

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur !

Salahkah aku mencobai jalan hidup dengan menjadi Pelacur? Salahkah aku, bila dengan menjadi Pelacur, aku bisa mendapatkan kembali kekuatanku yang sudah diporak-porandakan oleh Tuhan dan kaum lelaki maniak, kaum lelaki munafik

Penggalan isi dari novel ini menjadi cambuk, menjadi momok kekecewaan seorang Nidah Kirana, tokoh dari novel ini yang mengambil jalan pintas menjadi Pelacur atas kekecewaanya terhadap Tuhannya. Tuhan yang dianggapnya sebagai tempatnya menyembah dan juga Tuhannya lah juga yang membuat seorang Nidah Kirana yang mencari jati diri sebagai seorang pejuang menuju NII.

Awalnya, Nidah Kirana adalah mahasiswa yang boleh dikata pergaulannya sederhana, hidup dengan kecukupan, biaya kuliah ditanggung oleh orang tuanya (sebagai pengusaha bahan bangunan). Tertarik dengan belajar agama karena kekaguman kepada seorang perempuan yang kesehariannya tak lepas dari syariah agamanya. Rahmi, sosok yang membuat Nidah Kirana serius menjalani pengajian, walaupun tak lama bersama. Tapi seorang Nidah Kirana tak putus asa dengan tekadnya.

Dia pun berusaha mencari dan mencari. Dan atas usulan Rahmi juga ,Nidah Kirana bersedia untuk di bai'at (disumpah) untuk menjadi bagian perjuangan yang telah mengubah pola pikirnya. Selama setelah proses “Penyumpahan”, Nidah Kirana dibenturkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan akal pikirannya, kejanggalan-kejanggalan yang didapatnya kemudian dia akumulasikan menjadi sebuah “Kekecewaan”, yah kekecewaan terhadap teman-teman perjuangannya dan juga kepada Tuhannya.

Hasilnya, dia pun menyimpulkan perjuangannya adalah sia-sia. Dan salah satu jalan untuknya untuk lepas adalah “Go Away”. Dalam pelariannya, Nidah Kirana terus dihantui olehmasa lalunya, tempat ia memulai perjuangan sebagai pejuang Tuhannya, untuk menghilangkannya dia pun ikut dalam sebuah forum aliran kiri yang cukup terkenal di kampus barunya. Dari forum inilah Nidah Kirana melakukan kontak langsung dengan laki-laki. Hingga menjadi seorang pelacur yang mempunyai label bertarif mahal, ironis.

Sedikit Komentar dariPembaca

Setidaknya aku menikmatinya buku ini, seperti aku “melacuri buku ini”. Dengan melucuti isi dari novel ini hingga emosi serta dengan seksama menerawang perjalanan Nidah Kirana yang telah kecewa terhadap Tuhannya. Tapi apakah sebuah kekecewaan harus diakhiri dengan “DOSA”, apakah kisah Nidah Kirana adalah salah satu kisah dari pelacur-pelacur di negeriku. Ini hanya tebakanku, tapi kekagumanku kepada seorang perempuan tidak seperti ini. Aku tak ingin perempuan digeneralkan sebagai pelampiasan nafsu lelaki. Itu adalah tafsiran parsial menurutku.

Mungkin jalannya pelacur adalah jalannya dari Tuhannya untuk dirinya dan akan kembali kepada Tuhannya pula, konsep demokrasi tentunya. Biarkan dia kecewa kepada Tuhannya asal bukan kepada Tuhanku. Kalaupun dia tidak percaya kepada Tuhannya, kenapa dia harus takut. Bukankah takut adalah sebuah image tentang keberadaan Tuhan. Jika takut bertanggung jawab, maka janganlah berbuat dosa. Bahkan neraka dan surga bukanlah sebuah ekspektasi kehidupan manusia, tapi pada proses selama ia hidup di dunia. Tapi adakah Tuhan yang seperti itu, mungkin Tuhannya Nidah Kirana tak sama dengan Tuhanku (hehehehe).

Tuhan baruMungkinkah?

Sekarang , fenomena pluralis adalah penyakit yang menjangkiti syurgaku (negeriku). Krisis aktualisasi diri menjadikan sebangsaku mencari peruntungan. Kekayaan negeri ini digrogoti oleh bangsaku sendiri. Habis menyisakan duka dibelahan saudaraku yang menanti uluran tangan pemipin bangsa. Apakah proses ini merupakan jalan setapak akan munculnya Tuhan baru?, tuhan yang akan mengangkat derajat bangsaku menjadi dimuliakan dan bisa disetarakan dengan bangsa yang lain.

Dan apakah Tuhan baru itu akan tiba, dan apakah situs (red:YouTub.com) yang telah mengangkat “Menjadikan” sebagai idola baru dalam negeri kita ditengah keresahan bangsaku, telah membentuk sebuah fenomena sosial, apakah dia “Tuhan Manusia”. Sesekali aku pun menertawakan diriku, atas kesombonganku sendiri, melihatnya dikrumuni sebagai “Idola”. Dari Fenomena “Briptu Norman”, hingga kedatangan “Justin Bieber” telah menyita kalangan bawah sampai atas. Aku pun terperangah, sadarkah aku melihatnya dan mendengar pemberitaanya?, sampai saat ini media meng-Agung-kannya.

Ada uang ada barang, tak ada uang abang ditendang, Ada uang anda puas, tak ada uang tak ada kenikmatan. Dialah TUHAN UANG.

Selasa, 19 April 2011

Kepopuleran (Justin Bieber VS Bom Biadab)

Bagi fanatik Justin Bieber, siap-siaplah untuk merogoh uang sakumu, pastikan tiket untuk menonton idola favoritmu segera kau dapatkan. Justin Bieber akan menggungcang Indonesia lewat aksinya. Justin yang terkenal melalui Youtube akan mendatangi anda di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, 23 April 2011 ini. Pemberitaan akan kedatangan pelantun Baby..baby..oh… ini akan menyita mata publik di Indonesia, walaupun pemberitaannya cukup kontroversial tapi mengenai kejelasan akan kedatangannya dipastikan akan berlangsung tak lama lagi. Sesuai dengan keterangan pihak Promotor “Berlian Entertainment”, yang sudah mengantongi surat izin konser dari Kepolisian.(Sumber :Viva News. Com)
Bom Biadab VS Justin Bieber

1000 Polisi, dikabarkan akan meng-cover wilayah tempat berlangsungnya konser. Dan pastinya dukungan dan keamanan dari beberapa pihak akan menjadi sorotan publik, apalagi kisruh tentang aksi BOM bunuh diri bisa dikatakan telah mulai diselesaikan, walaupun pelaku Bom bunuh diri (Muhammad Syarif) terbunuh dalam aksinya, sungguh biadab, niat jihad tapi di tempat yang salah, dan akhirnya pepatah “Senjata makan tuan” benar adanya.

Waspada merupakan hal yang perlu dilakukan masyarakat, sampai sekarang kita masih buram motif yang ingin dilakukan si Bomber. Kepopuleran yang dimiliki oleh Justin dapat menyita perhatian beberapa pihak, secara bahwa justin adalah idola publik dunia. Dari media A-Z akan memberikan pemberitaan hal kedatangannya. Apalagi di negeri ini sedang demam kepopuleran “Over Actualitation”, walaupun hal itu tanpa kesengajaan, siapa yang tahu nasib seseorang, itu sudah takdir yang digariskan pencipta.

Tapi fenomena Ujian Nasional akan berakhir, sejalan dengan berakhirnya pesta Ujian Nasional, mereka (siswa-siswi) akan terobati dengan aksi sang fenomenal Justin Bieber, siapkah Uang anda..?

Senin, 18 April 2011

Fenomena "Distorsi" di Negeriku

Akhir-akhir ini pemberitaan media makin hangat, sesuai dengan jamannya. Pengaruh teknologi tak luput menjadi pemberitaan juga. Aksi kocak dari Briptu Norman seakan menyita mata seluruh rakyat Indonesia, sebagai Polisi Fenomenal, yang mendadak menjadi artis ibukota, dan menjadi buah bibir masyarakat. Meskipun ditengah kisruh pem-bom-an yang tejadi disebuah masjid Kepolisian di Cirebon.

Siapa yang tak kenal dengan youtube, situs yang menyediakan dan telah banyak memberikan jasa kepada siapa pun, bagi penikmatnya, tak cukup menjadi media informasi tapi malah menjadi media pencari keberuntungan (menjadi bagian dari dunia keartisan). Mungkin anda telah banyak tahu tentang orang-orang yang terkenal melalui dari situs Youtube ini. Apakah anda berminat menjadi bagian darinya?, mencari keberuntungan dengan aksi kocak atau aksi yang aneh dan bisa menjadi buah bibir di dunia maya.

Begitu mudah jalan menuju roma, yah… dengan sedikit merogoh uang yang banyak, anda akan dapat terbang kesana. Seperti ini lah fenomena yang terjadi di negeri ini. Dalam nalarku, semuanya masuk akal dengan uang. Apapun yang terjadi, ujung-ujungnya adalah uang. Masih ingat pemberitaan media tentang Pegawai Bank Fenomenal (Malinda Dee), bayangkan saja berapa uang yang telah dia ambil dari nasabahnya hingga sampai “Milyaran Rupiah”. Jika di ilmiahkan, itu hal yang mustahil bagi saya, tapi cukup menikmati perkembangannya, dengan sedikit kritikan yang menuai Pro dan Kontra, tentang perbuatan anehnya.

Dan dipertengahan bulan ini, aksi-aksi teroris semakin biadab. Dalam tayangan beberapa stasiun televisi “Bom Biadab” kini merajalela, tak tanggung-tanggung mereka menghancurkan fasilitas masyarakat, dan sampai saat ini maksud dari serangkaian aksinya tak dapat diketahui, hanya sebuah penaksiran tentang latar belakang pribadinya bukan pada akar aksinya. Padahal pihak kepolisian telah mebuat badan khusus untuk mengusut hal ini. Yah..percaya saja lah dengan usaha beliau, kita patut meng-apresiasi usaha-usaha beliau-beliau, karenba mereka lah yang lebih berkompeten.

Ditambah lagi aksi-aksi didunia pendidikan ditengah-tengah pemberitaan Ujian Nasional (UN). Bahwa institusi pendidikan yang berkenamaan mengupayakan agar lulusannya menjadi terbaik dan tidak ada lagi yang mengambil paket khusus. Adapun juga kisruh standar kelulusan menjadi salah satu yang menjadi pemicu aksi-aksi ini.

Damainya negeriku, sejahtera saudara-saudaraku, Mungkinkah..! (Jika ini sebuah sikap apatis dari diriku, mudah-mudahan tidak dialami oleh orang lain, tapi bagiku hal ini menjadi pemicu agar pemimpin negeriku mengupayakan yang paling terbaik untuk negeri kita tercinta, less talk more action. Jika mereka (beliau-beliau) paham maksudku, aku akan ikut merubah negeriku menjadi negeri terpandang sejagat raya. Bukan kenaifan, tapi inilah tekadku yang sesungguhnya).

Kamis, 07 April 2011

Kepuasan (Terdefinisi atau Terhitung)

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa “eksis” dan tenar di dunia, kemajuan teknologi pun mendukung. Banyak jalan menuju Roma, bukan ungkapan sekedar ungkapan, tapi memiliki dan memacu seseorang untuk lebih giat mencapai tujuannya. Sepatutnya seseorang mendapatkan hasil kerja kerasnya, mungkin di arahkan ke hal-hal negatif atau positif. Itu pun tergantung dari pemakainya, Sekedar opini tapi selera manusia tak berujung, menjadi Puas dan lebih puas lagi.

Apa Yah?

Dan hal inilah yang terjadi di masyarakat kita, ataupun di dunia pada umumnya, banyaknya jalan untuk mencapai sebuah ketenaran atau ingin di idolakan oleh siapa pun adalah pemicu. Begitu pun teknologi sebagai media yang begitu banyak berjasa untuk bisa mewujudkannya.

Mungkin kita tak asing dengan video Lipsing Keong Racun oleh Shinta-Jojo yang beredar di you tube, atau Udin dengan video lucunya yang berjudul Udin Sedunia, sekarang kita tertuju dengan kehadiran video Lipsing Norman yang menyanyikan lagu india. Semuanya beredar melalui you tube dengan ketidak sengajaan ataupun disengaja, tapi namanya komentar pasti ada sisi positif dan negatifnya, yah…lagi-lagi sesuai selera (kepuasan).

Sebuah fenomena di tanah air kita, yang kemudian bermotamorfosa sebuah keajaiban dan bukan hal asing. Maksudnya lambat-laun kita dapat menerima kehadirannya karena sifatnya menghibur. Tapi apakah pencapaian yang telah dimiliki oleh orang tersebut menjadi tolak ukur sebagai “keberhasilan" ?

Pesona Malinda Dee, pernikahan sesama lelaki, ketenaran Shinta-Jojo, Cerita tentang nama Udin, hingga lagu india oleh Norman. Ada-ada saja cerita di negeriku yang tercinta, dan hingga kini aku berfikir, jikalau anak-anak bangsa tak memiliki pemikiran panjang dan analisa yang matang, mungkin budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita akan terkikis, lama kelamaan hanya tinggal sebuah dongeng (mudah-mudahan tidak seperti itu).

Dan kuharap ada solusi yang ditawarkan oleh yang pantas memberi dan dukungan maksimal dari masyarakat seutuhnya. Bukan hanya larut oleh kondisi perpolitikan di negeri ini yang tak kunjung ada penyelesaian. Yah, kupercayakan sepenuhnya pada beliau-beliau, mungkin mereka mendengarnya atau sadar akan kondisi kekinian negeri kita. Amin...!

Minggu, 20 Februari 2011

Asal Usul nama Indonesia

Dalam suatu seminar di awal tahun 2002, Pramoedya Ananta Toer melontarkan pernyataan yang menggelitik. Katanya, kurangnya kesadaran sejarah menyebabkan negeri ini kacau balau. Bahkan tidak mengoreksi diri. Penulis yang sejumlah karyanya dibredel di masa Orde Baru itu menggugat, “Mengapa negeri ini dinamakan Indonesia? Bukankah itu artinya Kepulauan India? Itu salah, tapi kita tidak bisa dan tidak mau memperbaiki nama.”

Apalah arti sebuah nama, kata pujangga Inggris, William Shakespeare. Tentu akan lain persoalannya jika menyangkut nama sebuah negara. Kalaupun nama negara ini kemudian diganti, akan sederhanakah proses dan akibatnya? Kata ‘Indonesia’ diperkirakan berasal dari kata Indos Nesos, suatu bahasa perdagangan kuno untuk kawasan sekitar Selat Malaka, yang berarti Kepulauan India. Tentu merupakan sebuah kerancuan jika Indonesia dianggap sama dengan India. Bagaimana bisa dua negara yang berbeda letak geografisnya itu disamakan?

Awalnya, Indonesia dikenal sebagai Hindia Belanda (Dutch Indies), Netherland Indies, atau Hindia Timur (East Indies). Seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman, Adolf Bastan, yang dianggap pertama kali mempopulerkan nama Indonesia. Ia pertama kali menggunakan nama Indonesia dalam karyanya yang berjudul “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels (1884). Tentu saja yang dimaksudkan dengan ‘Indonesien‘ adalah ‘Kepulauan Nusantara’. Sejak itu, kata Indonesia menjadi lazim dalam khazanah ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu etnologi dan ilmu bahasa.

Namun, ada perkiraan bahwa nama Indonesia lebih tua daripada perkiraan semula. Diduga juga, seorang etnolog Inggris James Richardson Logan sudah memakai nama Indonesia pada 1850. Tepatnya dalam karangannya di “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” yang berjudul “The Ethnology of the Indian Archipelago“.

Begitupun G.W.Earl, dianggap sebagai pendahulu. Ia memakai istilah “Indu-nesians” dan “Malayunesian” untuk menunjuk penduduk kepulauan ini, meski tidak sampai pada penamaan Indonesia untuk kepulauan yang menjadi surga bagi perdagangan rempah-rempah saat itu. Earl menyebutkan kata ‘Indu-nesian‘ hanya dalam arti etnologis. Sedangkan Logan memberikan arti kata ‘Indonesia’ dari sudut geografis.

Logan tidak keberatan terhadap nama Indonesia, meski bagi orang Eropa kata itu kedengaran berbau bahasa Yunani. Menurut dia, kata ‘nusa’ -artinya pulau- yang dari bahasa Melayu mungkin sama tuanya dengan kata ‘nesos‘ dari bahasa Yunani.
Selanjutnya, sejak 1992 dalam dunia politik nama itu secara konsekuen dipakai oleh Perhimpunan indonesia (PI), gerakan yang beranggotakan para mahasiswa bumiputera di Belanda. PI, yang antikolonialisme dan imperialisme dengan tokoh sentral Bung Hatta, mempunyai agenda “Indonesia merdeka dari penjajahan”. Bersamaan dengan itu, pengertian dan konsep ‘Indonesia’ menjadi milik umum di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Yang dimaksud dengan Indonesia tentunya seluruh wilayah yang tengah dikuasai Belanda.

Puncaknya terjadi pada 28 Oktober 1928, dengan adanya ikrar dari para pemuda, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Sumpah Pemuda. Meski “kacau balau” seperti kata Pramoedya, sampai-sampai penyair Taufik Ismail pun menulis “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia“, serta mengalami krisis di segala bidang dan ancaman separatisme, Indonesia tetap ada dan utuh hingga kini. Namanya pun tetap Indonesia, sebuah negara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke dengan hapir 14.000 pulau yang dihuni oleh ratusan juta manusia dari beraneka etnis dan bahasa.

Dikutip dari : forum.vivanews.com